Rabu, 19 April 2017

Bapak

Doa tak akan pernah mengembalikan ia yang telah pergi, tetapi doa akan menabahkanmu dari kehilangan – Ayu Puji Lestari.

Perjalanan ini  terlalu lama, bayangan tentang Bapak memenuhi isi kepalaku. Telpon yang kuterima subuh tadi mengantarkanku untuk duduk di dalam bus berwarna kuning ini. Perjalanan untuk pulang.

Air mata berkali-kali kuusap. Mengabaikan pandangan heran penumpang yang memenuhi bus ini. Aku hanya ingin segera sampai rumah, dan memastikan bahwa Bapak baik-baik saja. Bahwa kekhawatiranku tak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin memeluk Bapak.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Bapak saat mengantarku kembali ke Pasuruan sore itu. 

“Tinggal tugas akhir pak,”jawabku setengah berteriak, mengalahkan suara motor yang membenamkan suaraku.

“Ya syukur. Tahun ini selesai kan?”

“Insyaallah,” Jawabku.

Dan itu adalah percakapan terakhirku bersama Bapak, sebelum akhirnya pertengahan Januari kemarin Bapak harus dirawat di rumah sakit. Ada peradangan di ginjalnya, kreatinnya tidak normal, adalah penjelasan mengapa Bapak harus menjalani diet ketat selama tiga bulan ini. Diet ketat yang menghabiskan badan Bapak, yang menyebabkan Bapak kurus. Alasan medis, hanya itu yang mampu aku tangkap dari penjelasan Dokter.

Hari ketiga, Bapak di Rumah Sakit.
Selama tiga bulan Bapak berkali-kali mengunjungi Rumah Sakit, tempat yang paling Bapak benci. Tiga bulan Bapak harus berteman dengan slang infus, obat dan jarum suntik. Semua hal yang Bapak benci. Dan dengan segala upaya kami mengharap Bapak sembuh.

Dan hari ini selang tiga hari dari aku bersama Ibu, Mbak dan Mas merayakan ulang tahun Bapak ke enam puluh tiga tahun. Telpon di pagi buta, yang sering aku takutkan pun terjadi.

“Pulanglah, kalau ingin bertemu Bapak.”

Maka duduklah aku di Bus ini. Bayangan tentang Bapak memenuhi pikiranku. Obrolan tentang harapan sederhana Bapak. Dan kenangan saat Bapak dengan bangga mengenalkanku kepada teman-temannya. Tak hanya aku, Bapak adalah sosok yang begitu bangga dengan keluarganya. Tak jarang ketika ada rekannya bertamu ke rumah maka Bapak tanpa segan mengambil album foto dan menceritakan tentang kehidupan anak-anaknya, termasuk aku yang jauh dari hal membanggakan.

Aku menghapus air mataku, aku berkali-kali menghela nafas. Berharap air mata ini dapat aku bendung, dan sialnya semakin aku paksa untuk berhenti air mataku malah semakin deras mengalir. Aku tak mau Bapak pergi.

Bapak tak pernah mengeluh sakit, paling anti pergi ke dokter. Dan semua berubah, saat pertengahan Januari lalu Bapak mengeluh sakit dan memaksa Ibu untuk menemani ke Rumah Sakit. Hari itu untuk pertama kalinya Bapak opname di Rumah Sakit. Dan betapa paniknya kami setelah menerima penjelasan tentang penyakit Bapak. Dan sejak hari itu bolak-balik ke Rumah Sakit menjadi rutinitas, hal yang membuat sesak bagi jiwa kami.

Aku mengusap foto yang menghias home screen HP ku, foto Ibu dan Bapak enam bulan yang lalu saat menghadiri pernikahan sepupuku di Malang. Foto yang aku ambil sesaat sebelum rombongan kami meninggalkan penginapan. Aku tergugu, mengingat perkataan Bapak saat aku menemani Bapak yang terjaga malam itu.

“Kalau sudah ada yang dekat, boleh kok dikenalkan ke Bapak. Anak mana? Bapak boleh tahu?”

Waktu itu aku hanya menggeleng, “Belum ada.”

Padahal sudah ada dia, lelakiku. My iced coffee.

Aku memandang ke arah luar jendela. Keriuhan jalan raya di pagi hari, adakah mereka mengalami hal yang sama denganku? Dikejar waktu dan berusaha membunuh rasa sesak karena khawatir. Bus yang membawaku berhenti di Terminal Mojoagung, setengah tergesa aku mencari seseorang yang rencananya akan menjemputku. Aku berharap Om Edi, adik dari Ibu yang menjemputku pagi itu. Setidaknya hal itu menunjukkan bahwa keadaan di rumah normal. Sayangnya, bukan Om yang tengah berdiri menungguku tetapi salah satu tetangga dekat rumah. Semakin runtuh harapanku. Aku hanya terdiam saat motor membawaku ke rumah.

Rumah ramai dengan tetangga dan saudara. Semua menyambutku, meminta untuk tenang. Yang aku ingat, sejak hari itu duniaku tidak lagi baik-baik saja. Berkali-kali aku berucap untuk ikhlas, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Hatiku patah.

April empat tahun yang lalu, hari terburuk itu pun aku alami. Perpisahan tidak pernah baik-baik saja. April empat tahun lalu, aku menjadi yatim. Sebagai seorang putri, ditinggalkan seorang Ayah adalah patah hati terhebatnya.

Hari ini aku kembali mengingat masa-masa itu. Kembali mengingat saat Bapak masih ada, kembali berandai-andai seandainya Bapak masih ada. Mencoba mengingat kembali alasan senyum Bapak. Ya, seringkali kehilangan menyadarkan pentingnya seseorang bagi kita.

Kembali mengingat apakah yang benar-benar membuat Bapak bahagia? Membuat Bapak duduk di bangku undangan, deretan paling depan saat penerimaan raport. Mendengar kabar bahwa akhirnya aku memilih menjadi Akuntan alih-alih menjadi tukang peneliti. Aku tidak pernah benar-benar tahu, yang aku tahu Bapak selalu bangga terhadap pilihan anak-anaknya.

Setelah empat tahun berlalu, perasaanku tetap sama. Pak, Ayu kangen pengen pulang ke rumah yang ada Bapak.

Malang, 19 April 2017.

Senin, 27 Maret 2017

Menikmati Suasana Rumah di Hotel Zam Zam Batu

Apa yang kamu pikirkan tentang kota Batu? Tentu saja apalagi kalau bukan pesona alamnya yang aduhai. Tidak hanya hawa dinginnya yang menjadi pesona, kota Batu pun menyimpan banyak hal seru. Maka tidak salah jika berlibur di kota Batu selalu menjadi pilihan utama saat akhir pekan, apalagi saat liburan panjang. Maka tidak heran, saat ini di kota Batu banyak berdiri hotel dan resort. Apalagi kalau tidak untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal untuk wisatawan yang berkunjung di kota Apel ini.

Perjalanan keliling Hotel Zam Zam bersama Blogger Ngalam | Foto Sandynata

Nah, kemarin saya dan teman-teman Blogger Ngalam diberi kesempatan untuk berkunjung ke salah satu hotel di Batu, yaitu  Zam Zam Hotel and Convention. Hotel ini terletak di Jalan Abdul Gani Atas, terletak +/- 500 meter dari wisata petik apel, Agro Kusuma. Wew, asik nih. Ada beberapa hal yang membuat hotel ini berbeda dengan hotel di Batu pada umumnya. Apa saja yang membuat hotel ini membuatnya cukup menarik? Berikut ini reviewnya.

Hotel dengan Masjid

Masjid di Dalam Area Hotel Zam Zam | copyright: Iwan Tantomi

Iya, hotel ini memiliki masjid di area dalam hotel. Bukan sekadar Musholla, tapi masjid yang aktif sholat lima waktu, Salat Jumat dan saat Ramadan dimanfaatkan untuk Taraweh. Tidak hanya untuk kepentingan karyawan dan tamu hotel, masjid ini juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk beribadah.

Kamar Luas dan Wangi

Salah satu ruang kamar di Zam Zam Hotel | copyright: Ayu Puji Lestari

Total kamar di Hotel Zam Zam ada 76 kamar, yang terdiri dari Deluxe Suite, Superior, Deluxe Executive, Junior Suite, Family Standart dan Family Deluxe. Untuk di kelasnya yaitu Hotel bintang tiga, Hotel Zam Zam memiliki kamar yang luas. Tidak hanya itu setiap kamu memasuki ruang kamarnya maka wangi khasnya akan membuat kamu betah dan merasa sedang di rumah sendiri.

Hotel ini memiliki standar pelayanan 3BITV yaitu, Bed Room, Bath Room, Breakfast, Internet dan TV. Jadi setiap tamu hotel berhak pelayanan prima dari hal di atas. Well, pantes saja selama keliling di Hotel ini saya merasa sedang di rumah.

Makanan Halal dan Non MSG

Salah satu yang membuat saya merasa nyaman dengan Hotel Zam Zam adalah, semua masakan yang disajikan di hotel ini adalah makanan halal. Iya, hotel ini berkomitmen hanya menyediakan makanan dan minuman yang kehalalannya terjamin. Tidak hanya itu, masakan yang disajikan pun bebas MSG, nah sudah pasti sehat kan?

Saat saya bertemu dengan Chef Ariyanto kepala koki di Hotel Zam Zam menyebutkan, masakan yang enak tidak perlu MSG. Rasa enak makanan dapat disajikan lewat pemilihan bahan yang berkualitas serta bumbu ya pas. Duh, Chef saya setuju dengan Anda soal ini.

Hotel yang Ramah Difabel

Pengalaman sebagai auditor seringkali membuat saya harus melakukan perjalanan luar kota, yang akhirnya menuntut saya untuk menginap di hotel. Dan baru kali ini saya menemukan hotel yang ramah bagi pengguna kursi roda. Mengapa saya bilang demikian? Hotel berlantai 3 ini memiliki lift, dan sepanjang lorong hotel disediakan jalur khusus untuk pengguna kursi roda. Hal yang jarang disentuh oleh beberapa pengelola hotel. Makin istimewa kan Hotel Zam Zam ini?

Tanaman Dalam Lorong

Jika menginap di Hotel Zam Zam maka kamu akan menemukan beberapa tanaman hidup yang diletakkan pada pot di depan kamar. Saya melihat ada beberapa jenis tanaman Sri Rejeki dan Bunga Terompet. Hehe, mengapa saya tahu? Karena pihak hotel memberikan name tag pada tanaman tersebut. Terlihat sederhana tapi hal ini dapat membantu mengedukasi pengunjung Hotel.

Pemandangan Pegunungan Panderman

Panderman Resto dengan view pegunungan Panderman | copyright: Ayu Puji Lestari
Salah satu hal menyenangkan dari menginap di Batu adalah pengalaman melihat gunung Panderman dari dekat. Nah,salah satu view yang ditawarkan Hotel Zam Zam adalah view pegunungan Panderman. Kapan lagi makan enak sambil melihat yang seger-seger?

Tidak hanya itu Zam Zam Hotel and Convention pun memberikan penawaran paket wedding mulai 23.999.000 nett untuk 100 undangan. Nah, makin menarik kan? Saya sih jadi pengen bikin private party buat wedding, masjid sudah ada nanti bisalah acaranya di gelar di Panderman Resto sambil melihat keindahan pegunungan, nanti menginapnya di the one room Deluxe Suite. Gimana? Yuk, ah ke Zam Zam Hotel.

Alamat Zam Zam Hotel
Jalan Abdul Gani Atas, Batu Telpon: 0341 - 591148/591149 Fax: 0341 - 591150
Email: info@zamzamhotel.com | www.zamzamhotel.com

Minggu, 19 Maret 2017

Langit Jingga di Semarang

“Aku ke Semarang akhir minggu ini,” adalah pesanku kepada partner saat ia menghubungiku di awal bulan kemarin. Ia tidak menanggapi dengan hal yang spesial. Berharap ia mengingatkan aku untuk membawa beberapa hal penting semisal, pakaian hangat, kacamata, topi atau hal remeh lainnya. Ia hanya mengucap,

“Di sana jangan kebanyakan selfie,”

Ok, rasanya pengen membanting handphone. Ini orang sama sekali enggak khawatir aku pergi sendirian ya? Kalau aku diculik? Kalau aku ternyata ketemu mantan bagaimana?

Hal yang paling menyebalkan dari LDR adalah saat seperti ini, sama sekali pasangan tidak dapat diandalkan. Berusaha sok cool, akhirnya aku memutuskan untuk membicarakan hal lain di luar rencana liburanku ke Semarang.

Sore itu hujan, sedikit gugup mengingat ini adalah perjalanan pertamaku ke Semarang dan sendirian. Well, apalagi sebelum berangkat sempat membaca blog post seorang teman yang ketinggalan kereta dan berujung dengan perjalanan sedikit ‘mistis’. Untung saja, sore itu aku tidak ketinggalan kereta dan tidak mengalami drama seperti yang dialami teman.

Sepanjang perjalanan dengan Kereta Majapahit malam itu aku lebih banyak tidur. Sesekali membalas pesan masuk, dan mengintip timeline. Beberapa kali aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Saat ia hampir menunjuk angka tiga, aku semakin gelisah. Sebentar lagi kereta akan tiba.

Kereta Majapahit berhenti saat jam di pergelangan tanganku menunjukkan angka tiga lewat dua puluh menit, terlambat lima menit dari jadwal. Pengumuman jika kereta sudah sampai di Stasiun Tawang, memenuhi gerbong kereta. Aku menurunkan ransel dari bagasi. Turun dari kereta disambut dengan tulisan SEMARANG di sudut stasiun. Finally, sampai juga.

Aku mencari-cari toilet, menahan buang air kecil tidaklah menyenangkan. Setelah hampir 9 jam di atas kereta akhirnya ketemu juga toilet. Sedikit kaget dengan air di Stasiun Tawang berpikir jika di toilet ini ada air panasnya. Kenyataannya, memang air di Semarang hangat dan cenderung panas menurutku.

Teringat pesan teman, agar tidak meninggalkan stasiun sebelum matahari terbit. Akhirnya aku tetap bertahan di stasiun. Sebenarnya ingin menuruti pesannya untuk menunggu di Musholla, tapi keadaan tidak memunginkan. Aku memilih duduk di ruang tunggu sambil mengisi daya handphone. Belum genap 10 menit, petugas datang menegur. Diminta untuk ke luar ruang tunggu. Yup, karena tempat duduk ini hanya untuk calon penumpang kereta.

Ragu-ragu antara bertahan di dalam stasiun atau ke luar stasiun. Akhirnya aku memutuskan untuk ke luar stasiun. Kejutan ternyata di situ juga ada beberapa kursi untuk menunggu jemputan. Aku memutuskan duduk di samping mini market. Memilih membeli roti dan air minum, kemudian kembali duduk di kursi yang aku duduki tadi.

Handphoneku kembali memuncul deretan pesan darinya.

“Sudah sampai?”

“Sudah,”

“Jangan ke mana-mana dulu. Tunggu di stasiun saja,” tulisnya.

Aku menurut padanya. Aku memasukkan kembali tablet ke dalam tasku. Kemudian memandang di sekitar. Beberapa tukang ojek menawarkan jasanya, beberapa ditolak ada juga yang akhirnya menemukan penggemarnya. Beberapa taxi biru meluncur menjemput penumpang, ada juga ojek online dan mobil pribadi yang aku yaini sebagai taxi online. Pemandangan yang sempat membuatku iri, mengingat ‘drama’ yang sempat aku alami sebelum keberangkatanku ke Semarang.

Aku mengamati wanita yang duduk di depanku. Ia sibuk dengan handphonenya, ia terlihat cemas. Mungkin ia sama denganku, Semarang adalah kota yang pertama kali ia tuju. Aku berasumsi. Tak lama seseorang mengejutkannya dari arah belakang. Ia tersenyum, ada rona bahagia. Ya, sepertinya mereka adalah sepasang kekasih yang sedang melepas rindu.

Hal yang paling aku sukai dari duduk di tempat seperti ini adalah membayangkan apa yang ada di pikiran mereka. Stasiun bisa menjadi pertemuan sekaligus perpisahan. Tempat yang memiliki nilai emosional yang berada di urutan nomor dua setelah bandara, itu versiku sih. Sayangnya kali ini stasiun tidak lebih dari tempat aku menunggu matahari agak tinggi, demi melanjutkan perjalanan sebelum check in hotel sekitar pukul dua belas nanti.

Dan itu berarti sekitar delapan jam lagi. Sial, aku mulai bosan.

Ruang tunggu semakin sepi, beberapa orang yang tadinya duduk di sini meninggalkan tempat ini. Haish, mengapa aku jadi galau? Aku kembali mengambil tablet dalam tasku. Membuka google map, menyusuri dan menghitung jarak. Sambil menerka letak Polder dan Kota Tua berada di mana. Aku kembali melihat ke arah depan, masih gelap sementara jam di pergelangan tanganku masih menunjuk setengah lima.

Sebuah pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau itu. Partner akhirnya merasa khawatir juga, pikirku kala itu. Sebuah pesan gambar sedang loading.

Dari Dia ~


“Loh...”

Aku melihat ke arah samping, ada dia dan tersenyum ke arahku. Sial, ternyata ia lebih romantis dari yang aku kira.

- teruntuk dia yang menempuh kilometer lebih jauh.

Kamis, 16 Maret 2017

Hal-Hal yang Membuat Saya Jatuh Cinta dengan Kota Semarang


Yeay, akhirnya Tahun 2017 ini saya kesampaian maen ke Semarang. Persiapannya hampir dua bulan, yeay solo travelling kali ini penuh persiapan. Ada dua hal yang membuat saya melakukan persiapan tidak seperti biasanya. Pertama, kota ini untuk pertama kalinya saya kunjungi. Kedua, saya benar-benar ingin menikmati solo traveling kali ini.

Saya melakukan perjalanan Jumat tanggal 10 Maret lalu, naik kereta api sampai di Semarang esok harinya. Well, kalau ditanya apa yang membuat saya betah di Semarang ini jawabannya.

Kota Tua

Yup, saya adalah penggila city tour. Kalau travelling yang dipilih gak jauh dari jalan-jalan sekitar kota. Dan kejutannya Semarang punya kawasan Kota Tua. Yeay! Anggap saja pemanasan sebelum ke Kota Tua Jakarta. Saya ke Kota Tua sampai dua kali. Subuh sesampai saya di Semarang dan saya lanjutkan keesokan harinya.

Saya suka dengan bangunan tuanya. Suasananya dan tentu saja Gereja Belduk yang legendaris itu. Saya juga sempat ke Taman Garuda dan Taman Sri Gunting.

Lawang Sewu

Mainstream sih, tapi saya memang jatuh cinta dengan bangunan ini. Bangunan peninggalan kolonial ini memang penuh daya tarik. Saya juga ke sini dua kali, malam hari dan siang hari. Gara-gara main ke sini jadi punya bayangan ingin ngadain resepsi di Lawang Sewu. Hmm, lucu kali ya?

Bakmi Pak Doel Numani

Semua bilang kuliner di Semarang enak, okay saya setuju itu. Tapi dari sekian banyak makanan yang saya coba selama di Semarang, Bakmi Pak Doel Numani di seberang Mall Paragon adalah juaranya. Hmm, Bakmi Godhognya enak banget. Minya lumer dan lembut. Dimakan dengan sate jeroan makin yummy. Bahagianya, harganya pun pas di kantong.

Semua Camilan di Bandeng Juwana

Enting Gephuk, Moachi, Roti isi abon bandeng, Tahu Bakso, Pia Susu dan banyak lagi. Rasanya tidak ada camilan yang dijual di Toko Bandeng Juwana yang tidak saya suka. Hehe, serunya lagi kalau belanja di sini bisa dapat tester. Jadi sebelum memutuskan beli bisa nyicip dulu bakal sesuai dengan selera atau tidak.

Trotoar di Semarang Juara

Meskipun belum semua Trotoar di Semarang bagus dan masih ada beberapa ruas trotoar yang belum selesai diperbaiki, tapi sungguh trotoar di Semarang itu idaman banget. Trotoarnya luas dan nyaman. Trotoar favorit adalah sepanjang jalan Thamrin yang menuju Tugu Pemuda. Suka!

Transportasi Umum Lengkap

Di Semarang mau naik angkot, BRT (Semacam Bus Trans), Bus Kota, Bus Damri, Becak, Ojek Pengkolan, Ojek Online, Taxi lokal, Taxi sekelas Blue Bird, Taxi online semuanya ada. Selama di Semarang saya banyak naik BRT, kalau lagi selow naik becak, nah saat malam dan jarak tempuh agak jauh saya baru menggunakan Taxi online. Serunya lagi yang online dan konvensional gak ribut. Selow, sedikit bikin terharu mengingat sebelum berangkat ke Semarang sempat terlibat drama transportasi online vs konvensional.

Selain hal di atas, masih banyak hal seru yang saya nikmati selama di Semarang. Nanti deh saya bahas satu persatu. Jadi mau ke Semarang lagi yu? MAU!!!!

Selasa, 28 Februari 2017

Alasan Klise Mengapa Saya Memilih Angkot Daripada Kamu

Angkot di Malang | Gambar Ilustrasi/Jawa Pos

Disclaimare: Tulisan ini murni pendapat pribadi saya sebagai pengguna angkot, tidak berniat menyudutkan salah satu pihak. Terima kasih.

Yu, naik Gojek saja loh. Lebih cepet, enggak macet. Murah lagi.
Kalau mau cepet ya datang lebih awal. Enggak mau macet? Terbang saja.

Yup, hal itulah yang sering saya dengar saat lagi ngumpul bersama teman-teman dan harus datang terlambat karena angkot ngetem. Panik saat sudah malam, angkot sudah enggak ada atau jarang dan terpaksa menelpon Taxi. Yang berakhir saya membayar lebih mahal daripada makanan yang saya pesan saat itu. Tapi apa saya kapok? Hehehe, ternyata sampai hari ini saya belum kapok.

Saya adalah pengguna angkot sejati. Sempat vakum naik angkot selama tinggal di Pasuruan karena transportasi lebih nyaman naik becak. Balik lagi menjadi pengguna angkot aktif setelah balik ke Malang. Padahal angkot sudah banyak ditinggalkan.

Sempat merasa gemes saat Angkot di Malang demo beberapa minggu yang lalu. Alasannya enggak terima trayek mereka banyak diambil dengan Transpotasi Online. Gemes karena mengapa mereka protes setelah Transportasi Online sudah hadir cukup lama, meskipun belum genap satu tahun. Gemes, karena selama ini saya dengar Pak Sopir Angkot tidak pernah merasa tersaingi dan mereka selow melihat banyaknya pengemudi Gojek di jalanan kota Malang. Rasa-rasanya masih enggak percaya mereka menuntut agar Transportasi Online tidak perlu ada di Malang.

Pak, setiap orang berhak memilih kan? *iyap ini drama*

Jika dilihat pasar pengguna Angkot dan Transportasi Online berbeda. Ya kali, tidak semua orang memiliki handphone yang mumpuni buat digunakan pengoperasian aplikasi Gojek dan kawan-kawannya. Dan yang terpenting tidak semua orang menganggap duduk anteng di rumah dan dijemput kemudian diantar ke tujuan itu menyenangkan. See? Meskipun saya tau dan handphone saya tidak jadul-jadul banget untuk download aplikasi Gojek dan kawan-kawannya, tidak membuat saya tergantung pada mereka. Saya tetep menjadi pengguna angkot yang setia hingga hari ini, meskipun saat malam sering affaiir dengan Taxi Konvensional.

Gemes saja saat ada yang komentar untuk mengurangi kemacetan di Malang yang ruwetnya mirip hubungan kamu sama mantan dengan menghilangkan angkot dan membiarkan Transportasi Online ada. Woy, yang bikin macet Malang itu bukan angkot tapi itu kendaraan pribadi. Gemes ketika ada yang berkomentar yang gak mau makai transportasi itu udik dan kampungan. Yha, berarti saya kampungan dong? :( 

Well, sedih saja saat kemarin Pak Sopir Angkot demo menolak Transportasi Online. Kenapa sedih, karena angkot sama transportasi online itu perbandingannya bukan aple to aple. Beda kelas. Yakin yang bikin sepi angkot karena hadirnya transportasi online? Enggak kok, yang ada banyaknya orang menganggap naik kendaraan pribadi lebih praktis daripada naik angkot. Naik angkot itu ribet, bikin macet dan ‘mahal’. Padahal ya, kalau macet mereka yang ngomel-ngomel. Iya itu mereka yang ikut madetin jalan dengan naik kendaraan pribadi. Hehe.

Saya memang penggemar transportasi umum, meskipun saya tahu transportasi online pun termasuk transportasi umum. Tapi mengapa saya memilih angkot? Karena angkot bisa ditumpangi lebih dari satu orang bahkan berbanyak. Kenapa hal ini menjadi penting bagi saya? Karena saya tidak ingin menjadi bagian penyebab orang ngomel akibat macet. See? Itu alasan sederhananya. Alasan ribetnya? Karena saya susah untuk move on dan terlalu pemilih. Jadi kalau kamu menyuruh saya enggak naik angkot, mungkin harus menunggu MRT ada di Malang. Karena bagi saya Angkot vs Transportasi Online itu enggak apple to apple. Hahaha, dan yang terpenting menurut orang lain lebih mudah bisa jadi sebaliknya bagi saya. Begitu saja. Selamat malam.

Minggu, 12 Februari 2017

Lost in Malang, Malam Minggu Receh Jalan Kaki Keliling Kota Malang

Siapa sih yang enggak suka malam minggu? Apalagi para pekerja yang sabtunya harus kerja. Malam minggu itu semacam angin surga, bisa pulang kerja lebih awal dan sore hingga malam bisa ngapain aja. Tidur malam pun tidak masalah, karena besok hari minggu dan libur. Maka malam minggu kemarin saya memutuskan ikut acara yang diadakan A Day To Walk. Jalan-jalan hore di malam hari sepertinya tidak ada salahnya menjadi pilihan saya malam itu.

Sejak siang saya diribetkan dengan urusan event di komunitas, sempat ketemu teman lama juga dan hampir menjelang malam baru kelar semua urusan. Muka sudah kucel dan badan sudah remuk sebenarnya. Acara A Day To Walk sebenarnya dimulai pukul setengah tujuh, lah ini pukul tujuh telat banget ya seandainya saya nekat untuk gabung. Iseng lewat meeting point, sekalian mau oper angkot dan ternyata masih ramai. Well, akhirnya saya ikut bergabung. 

Ternyata malam itu banyak juga yang datang. Saya sempat ber’hai’ dengan salah satu peserta. Ngobrol sebentar dan kenalan. Asiknya ikut acara beginian membuat saya bertemu teman baru. Setelah berdoa dan dijelaskan rute jalan hari ini, rombongan langsung bergerak ke Alun-Alun.

Ternyata salah satu peserta ada Tomi dan Alfin. Ya elah, mereka lagi. Ujung-ujungnya saya jalan juga dengan mereka. Rute jalan-jalan berikutnya adalah Night Market yang berada di belakang Pasar Besar. Nah, setelah sampai di Night Market inilah muncul ide laknat saya.

“Pisah jalan yuk....”

Dan benar saja, saat rombongan melanjutkan jalan saya, Alfin dan Tomi malah memutuskan berhenti di Ronde Titoni nyemil Angsle. Sebenarnya saya penasaran wujud ronde itu seperti apa, tapi karena sejak seminggu lebih pengen angsle maka saya memilih memesan angsle. Yeay, akhirnya makan Angsle.

Angsle di Titoni, sukaaak XD | Foto by: Tomi

Ini adalah pengalaman pertama saya makan Angsle di Ronde Titoni. Pernah sih makan tapi biasanya dibungkusin sama teman. Dan ternyata makan di tempat lebih enak daripada dibungkus. Ih, kesel. Setelah menghabiskan satu mangkok angsle kami melanjutkan perjalanan ke arah Pasar Besar, dengan asumsi bakal bertemu rombongan di sana. Ternyata enggak ketemu. Hahaha.

Dari Pasar Besar kami menuju Jalan Zainal Arifin, belakang Ramayana. Akhirnya saya tahu di mana Es Tawon berada, akhirnya besok-besok saya bakal nge-es hore di sana. Meskipun besoknya enggak tahu kapan. Sepanjang perjalanan saya lebih banyak mendengar dongeng dari Tomi dan Alfin. Dan bahagianya saya tahu beberapa kuliner malam sebagai referensi makan malam.Ya, agar malam saya lebih berfaedah dari sekadar nasi lalapan atau nasi goreng. Kami melanjutkan perjalanan hinggal Bok Glodok, sempat wefie juga di sana. Lewat depan Stasiun dan duduk bego di depan Balai Kota berharap bertemu dengan rombongan.

Akhirnya kami memutuskan memotong jalan, lewat jalan majapahit kembali ke Dilo, meeting point awal. Sempat tergoda ingin membeli nasi goreng tapi batal karena kaki sudah nyut-nyutan dan muka sudah mirip zombi karena seharian jalan. Saat mau menyebrang ke Dilo kami bertemu dengan rombongan, haha. Akhirnya memutuskan untuk sok hore berkumpul dengan rombongan yang sedang mendengarkan dengan khidmat penjelasan pemimpin rombongan soal Bioskop Merdeka yang tinggal reruntuhannya saja . Kami juga sempat foto bareng dengan rombongan. Dan salah satu kenalan nyeletuk,

“Loh, kalian tadi kemana? Kok enggak keliatan?”

“Ada kok, tadi kami jalannya pelan-pelan”

Saya tahu dia enggak percaya, tapi masa bodoh kali ya? Hahaha.

Tim Ngehe yang nyempil dari Rombongan, abaikan muka kucelku :( | Foto by: Tomi

Dan akhirnya malam itu kesampaian juga wefie di atas jembatan penyebrangan depan Dilo. Iya, saya bahagianya receh. Jadi kapan jalan-jalan lagi? Maumu yu ~

Rabu, 08 Februari 2017

Berjumpa Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-Kata

Akhirnya Istirahatlah Kata-Kata di Mandala 21, Malang | Foto by: Iwan Tantomi

Akhirnya setelah menunggu 2 minggu lebih, saya berhasil menonton film yang penayangannya sudah saya tunggu sejak tahun lalu. Sempat kesal, karena Malang termasuk kota yang tidak menayangkan Istirahatlah Kata-Kata. Beruntung Melati, yang mengkoordinir teman-teman di Malang untuk nobar Wiji Thukul berhasil menghadirkan Wiji Thukul di Bioskop kota Malang. Tidak main-main sekitar 700 orang lebih nobar Istirahatlah Kata-Kata tanggal 2 Februari kemarin. Angka yang fantastis, total 5 studia full booked pada tanggal tersebut. Hebat ya? Iya dong :3 Melihat antusiasme Arek Malang akhirnya Mandala 21 menayangkan secara reguler Istirahatlah Kata-Kata sejak tanggal 30 Januari 2017 *tepuk tangan*

Istirahatlah Kata-Kata bercerita tentang pelarian Wiji Thukul. Seperti dugaan saya, film ini banyak menceritakan tentang pelariannya. Film yang tanpa banyak cakap, tapi saya mampu menangkap kengerian dan rasa getir hidup sebagai ‘buron’. Sepanjang film saya merasakan kegetiran yang sangat. Tidak hanya itu, beberapa puisi Wiji Thukul yang dibacakan membuat saya merasakan kegetiran rezim kala itu. Yang kata Wiji Thukul, rezim yang takut dengan kata-kata.

Tidak hanya tentang kegetiran kehidupan Wiji Thukul saja yang ingin disampaikan dalam film ini. Ada juga sisi romantis seorang Thukul. Adalah Thukul yang membelikan Sipon celana, yang ia bawa pulang ke Solo. Tidak hanya sekadar membelikan celana saja, Wiji Thukul pun mencuci celana tersebut sebelum ia bawa pulang. Di situ saya melihat, ya Wiji Thukul pun seorang manusia biasa. Merasa mencintai dan dicintai, membuatnya seperti manusia pada umumnya. Entah, romantisme Wiji Thukul dan Sipon hingga kini membuat saya termenung. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk membahasakan cintanya.

Di penghujung cerita, Sipon yang sempat berteriak marah kepada salah satu tetangganya ‘Aku guduk lonte..’ yang artinya ‘Aku bukan pelacur...’hanya karena Sipon sempat dilihat tetangganya tersebut masuk ke sebuah penginapan untuk menemui Wiji Thukul. Betapa ya, masalah steriotipe itu lekat dengan wanita. Hanya karena Wiji Thukul tidak bersama dengan Sipon sepanjang waktu, seperti menjadi pembenaran bahwa Sipon layak direndahkan.

Pelarian tidak pernah baik-baik saja. Pelarian selalu meninggalkan ‘luka’. Saya memang tidak pernah tahu bagaimana sejarah Wiji Thukul. Saya hanya membaca beberapa kali namanya, tanpa tertarik untuk mencari tahu. Hingga kemarin Kompas Gramedia menerbitkan Seri  Tempo salah satunya mengulas tentang Wiji Thukul. Saya membacanya dan tertegun, jika Wiji Thukul begitu ditakuti oleh rezim kala itu. Dari situlah saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Wiji Thukul. Saya jadi tahu jika kasus 27 Juli 1996 pun dikaitkan dengannya. Kenyataan yang seringkali membuat saya kesal saat membaca buku sejarah dan mengetahui tanggal lahir saya bersamaan dengan sejarah gelap negeri ini.

Saya menyukai film ini, saya menikmati film ini. Film yang menyajikan sisi humanis seorang Wiji Thukul. Saya berharap ketika film berakhir, ketika Wiji Thukul yang menawari Sipon untuk minum air putih lagi itu akan kembali. Saya berharap, Wiji Thukul kembali membawakan segelas air putih untuk menenangkan tangis Sipon. Tapi ternyata tidak. Ia tidak kembali menemui Sipon. Di situ saya mulai merasa ngilu, kehilangan tidak pernah ada yang baik-baik saja. Tapi saya tahu Sipon hingga hari ini masih percaya Wiji Thukul pasti kembali.

Ada satu kutipan yang paling saya sukai dari film Istirahatlah Kata-Kata ini, yaitu ucapan Sipon kepada Wiji Thukul;

Aku ora pengen kowe lungo, nanging aku yo ora pengen kowe moleh. Sing tak pengeni kowe ono.

Dan akhirnya terima kasih untuk Yosef Anggi Noen yang membuat film ini menjadi luar biasa. Terima kasih.