Rabu, 13 September 2017

Maaf Sayang, Aku Ingin Terlihat Cantik di Matamu

Cantik/copyright pexels.com


Ih, kamu enggak pantas pakai baju model begitu.
Hahaha...itu alis apa ulet bulu.
Habis minum darah neng?
Kebanyakan gaya kamu, pakai make up segala.
Muka gitu aja, enggak perlu di apa-apain. Gak bikin kamu tambah cantik.
Ih, dasar kebanyakan gaya.

Sering mendengar kalimat tersebut? Saya sering, berada di lingkungan yang didominasi banyak wanita tidak membuat saya dikelilingi oleh orang yang lebih paham wanita. Yah, justru mereka ini yang paling gencar membicarakan kelemahan kaumnya. Paling jago nyinyirnya. Miris? Jelas.

Ada yang salah dengan wanita yang ingin terlihat cantik? Sepertinya menjadi pesakitan ketika seseorang berusaha meratakan alisnya. Sepertinya menjadi sah dicaci maki ketika seseorang memoles bedak yang tebal dan wajahnya terlihat lebih putih dibanding lehernya. Duh, jadi wanita yang ingin cantik memang tidak mudah.

Well, sayangnya yang gemar merendahkan ini kebanyakan dari kaumnya sendiri. Wanita. Coba saja lihat akun instagram yang berbagi gosip dari selebriti hingga mereka yang ingin dianggap selebriti. Membaca kolom komentarnya membuat kepala saya berdenyut. Semudah itu mereka berkomentar?

Seringkali kita lupa mengukur standar hidup kita harus sama dengan orang lain. Ah, sayangnya saya juga lupa, berkomentar tentang keburukan orang lain itu candu.

Minggu, 20 Agustus 2017

Berdamai dengan Keadaan

Berdamai / copyright pexels.com

Seorang teman dekat bertanya padaku saat ulang tahun yang kesekian bulan lalu.

"Bagaimana ulang tahun kali ini?" tanyanya.

Aku menjawab seadanya. Ulang tahun tetap menyenangkan bagiku. Menerima kado, mendapat kejutan dan sedikit berbagi bahagia dengan orang-orang terdekat. Tahun ini aku menghabiskan hari ulang tahun dengan bermain-main bersama adik-adik jagoan di Sahabat Anak Kanker. Menyenangkan? Alhamdulilah.

Hanya itu?

Tidak, esoknya aku mendapat kejutan dari teman kantor. Mendatangkan tamu istimewa setelah aku menyangka ia pergi, sebelum hari ulang tahunku. Sedikit membuatku menangis karena terharu. Mendapat kado yang sudah lama aku idamkan. Makan enak, tertawa, dan berfoto. Bahagia? Alhamdulilah.

Lalu dia?

Hubungan kami berakhir sebulan sebelum tanggal 27 Juli. Sepertinya ia berusaha untuk menghilang dari hidupku. Begitu pun denganku. Perpisahan yang tidak menyenangkan setelah sekian lama kami mencoba untuk mengabaikan hal yang membuat kami untuk bersama. Banyak yang menyayangkan, tak sedikit yang merasa lega. Kami sadar, kami terlalu memaksa.

Ini tidak mudah, tapi aku tidak berjuang sendiri. Aku tahu, dia juga sedang melakukan hal yang sama. Memaksa untuk tetap bersama hanya membuat kami saling menyakiti. Kami sadar mengambil keputusan ini, setidaknya itu membuatku lega.

Agustus hampir di ujung hari. Banyak hal nelangsa yang aku alami beberapa bulan ini. Sakit hati, kecewa dan penerimaan yang tidak mudah. Tapi yang pasti mencoba untuk berdamai dengan semuanya tidak mudah bagiku. Semoga Agustus berakhir dengan damai. Meskipun tanpa kehadiran dia, dan keterpaksaanku menerima kehadiran seseorang untuk menjadi bagian hidupku.

Sabtu, 01 Juli 2017

Tentang Memaafkan



Lebaran sudah seminggu berlalu, apa yang saya dapatkan?

Banyak hal yang terjadi beberapa bulan ini. Sakit hati, kecewa dan tangis. Hingga sempat membuat saya berpikir, sampai kapan ini akan terjadi? Emosi ternyata membuat saya tidak sempat berpikir tentang kebahagiaan. Amarah ternyata mengikis logika saya. Namun, beruntungnya saya memiliki orang-orang baik yang setia saat saya terpuruk. Hingga saya dapat menepis ego hingga titik terendah.

Adalah malam takbir kemarin, saya benar-benar menangis. Saya tidak pernah merasa sengilu ini saat malam takbir. Saya menangis hebat. Mengingat apa yang telah saya lakukan beberapa bulan lalu. Ternyata semua sia-sia, seharusnya saya tidak menuruti emosi. Amarah tidak akan membuat segalanya menjadi baik, justru menjadikannya abu.

Sakit hati saya luruh. Dalam hati saya berjanji ini airmata terakhir saya untuk kebodohan ini. Saya berjanji ini amarah terakhir saya. Memaafkan memang tidak mudah. Melupakan tidak ada yang mudah. Menerima itu tidak pernah mudah, apalagi saat ego tersakiti.

Teringat pesan kakak laki-laki saya, saat berhadapan dengan orang yang tidak bisa memahamimu maka tugasmulah untuk memahami. Yup, sesederhana itu.

Saya akan belajar untuk memahami. Setiap orang akan berubah. Saya akan belajar menerima, karena tidak ada satu pun orang dapat membahagiakan semua orang. Jadi, untuk apa saya memaksakan keadaan agar memenuhi keinginan saya?

Mengapa saya memilih memaafkan dan melupakan rasa sakit dan kecewa saya. Karena saya tahu, maaf akan meringankan langkah saya di masa depan. Bukankah saya berhak untuk bahagia? Berhak memperjuangkan kebahagiaan saya?

Jadi, maafkan dan lupakan. Jika memang saya belum bisa seperti dulu tolong maafkan, karena untuk berjalan sejauh ini pun bagi saya tidak mudah.

Kamar 202, 18:02

Senin, 05 Juni 2017

Selamat Ulang Tahun

copyright pexels.com
"Selamat ulang tahun," bisikku tepat jam menunjuk pukul dua belas malam.

Lilin yang berada di atas kue ulang tahun dengan ukiran namamu menyala terang. Wajahmu terlihat tampan malam ini, dari balik siluet cahaya lilin.

Aku mengusap tulang pipimu pelan. Lalu tersenyum.

"Selamat ulang tahun," ulangku, kali ini lebih pelan.

Aku melihat senyummu. Aku mengamatinya, menyimpannya dalam setiap sel otakku. Takut jika ulang tahun berikutnya aku tak lagi bersamamu. Bukankah ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu.

"Selamat ulang tahun,"

Kali ini aku tidak melihat senyummu, hanya tangis tertahan saat kedua tanganku menancapkan pisau tepat di dada wanita yang kamu nikahi lima tahun lalu. Tanganku lincah mencukil kedua bola matanya. Bola mata yang kamu agungkan di belakangku. Bola mata yang membuatmu tak lagi melihatku.

"Selamat ulang tahun dan terima kado sepasang mata yang kamu puja di belakangku ini."


Malang, 5 Juni 2017

Minggu, 04 Juni 2017

Dementor

Dementor | copyright pottermore

Jika kalian penggemar serial Harry Potter tentu tahu dengan tokoh Dementor. Iya, makhluk yang hobi menyerap kebahagiaan orang yang berada di dekatnya. Efeknya? Seseorang yang kehilangan kebahagiaan itu sama mengerikannya dengan orang yang kehilangan harapan. Kalau enggak depresi ya bakal berujung mati.

Rasanya gimana sih bertemu Dementor alias seseorang yang membuat kita kehilangan kebahagiaan? Hfft, jangan ditanya. Menyebalkan dan menyakitkan.

Suka atau tidak, setiap orang pasti memiliki Dementor. Ada yang berwujud kenangan dengan mantan, tentang cinta yang tidak terbalas, deadline pekerjaan, Bos yang menyebalkan, teman yang sok tau, dan banyak lainnya. Kalau ditanya apa wujud Dementor saya saat ini? Jawabannya adalah keadaan yang memaksa saya untuk menerima. Apa itu? Biar saya dan Tuhan yang tahu. Hahaha, padahal tidak ada yang ingin tahu juga.

Tidak ada penyakit tanpa obat. Begitu juga dengan kehadiran Dementor ini. Ada cara untuk mengusirnya, yaitu membuat mantra Potranus. Cara kerja mantra ini sangat ajaib, yaitu dengan mengumpulkan kenangan menyenangkan dan yang membuat kita bahagia. Kita cukup mengingat hal-hal yang menyenangkan tersebut. Dengan kita tertawa maka Potranus akan terbentuk dan Dementor pun kalah. Sesederhana itu.

Sayangnya mengumpulkan kebahagiaan di saat hati kita dipenuhi rasa benci itu tidak mudah. Menemukan bahagia, saat kita dipaksa untuk menerima keadaan yang tidak disukai itu sangat memberatkan. Maka tidak selamanya Potranus dapat berhasil diciptakan. Seringkali, saat manusia bertemu Dementor berakhir dengan depresi atau yang terburuk adalah kematian.

Saat ini saya sedang berjuang untuk membuat mantra Potranus saya. Mengingat kenangan tentang hal yang menyenangkan. Melakukan hal-hal seru. Tidak selalu bersama orang lain, saya pun kerap melakukannya sendiri. Karena saya tahu, menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain hanya akan menghasilkan kecewa.

Saya menulis, saya melakukan perjalanan jauh, saya menghindari segala rutinitas yang membuat saya teringat tentang sosok Dementor tersebut. Mungkin Potranus saya belum sempurna saya buat. Tapi saya percaya, sebagai manusia tidak selamanya kesedihan akan berjalan bersama saya selamanya.

Selamat tanggal 4 Juni Dementorku, semoga tidurmu nyenyak.

Sabtu, 03 Juni 2017

Menjadi (yang) Mereka Inginkan



Menjadi aku ternyata tidak mudah.

Saya adalah bungsu dari lima bersaudara. Banyak yang menganggap menjadi bungsu itu menyenangkan karena pasti semua keinginan akan dipenuhi. Tidak perlu menunggu besok, hari itu juga pasti dikabulkan.

Menjadi bungsu itu menyenangkan, kata bagi sebagian.

Ketika ada yang tidak sesuai yang diinginkan, cukup merajuk maka semua urusan selesai. Semua akan menuruti. Menenangkan dengan janji akan memberi dua bahkan tiga kali lipat dari yang diinginkan.

Sayangnya menjadi bungsu tidak semudah yang mereka bayangkan. Apalagi menjadi bungsu yang serba enggak enakan.

Ketika egoku tersakiti, aku pikir semua akan memahami. Justru saat aku ingin mengemukakan pendapat, mereka berpikir aku hanya cemburu dan iri. Halah, bungsu kan tidak jauh dari dua hal itu. Tukang iri dan cemburu. Egois mereka bilang.

Ternyata menjadi bungsu yang mereka inginkan tidak mudah. Ketika merajuk salah, lalu apa aku harus pergi?

Ternyata juga salah, jika aku pergi itu artinya aku membenarkan anggapan mereka bahwa aku sedang iri.

Ternyata menjadi mereka inginkan sulit sekali, sekadar menjadi bungsu yang egois sekalipun.

Kamis, 01 Juni 2017

Sahur Apa?

Alhamdulilah bertemu Ramadan lagi.

Beberapa orang suka menanyakan menu sahur saya. Alih-alih kepo, mereka penasaran menu sahur seorang Ayu yang picky. Saya memang pemilih dalam soal apa pun termasuk dengan memilih menu sahur.

Lalu menu sahur apa yang kamu pilih?

Saya biasa minum air putih dan satu buah. Buahnya entah apel atau pear. Tapi 2 Ramadan ini saya memilih pear century. Alasannya pear centrury lebih manis dan kresh. Harganya gak terlalu mahal dan tentu saja kandungan airnya lebih banyak sehingga membuat saya terbebas dari dehidrasi.

Air putih yang saya minum saat sahur yaitu sebanyak 1 botol tupperware ukuran tanggung, ya setara 600ml. Kadang bisa lebih. Gak laper yu? Gak haus? Alhamdulilah, ritual sahur model begini sudah saya jalani sejak 6 tahun lalu. Malah saya lebih kuat dan tidak merasa lemas. Justru kalau makan nasi waktu sahur badan saya semakin lemas. Hehehe.

Dulu seseorang suka memarahi saya dengan kebiasaan sahur saya. Tapi waktu itu iya-iya aja. Kebiasaan sahur pun tetap sama. Hanya berubah saat saya pulang. Biar enggak dicap durhaka karena tidak makan sahur menu buatan ibu,

Tahun ini, saya masih melakukan ritual yang sama. Sahur dengan air putih dan buah, tapi sekarang ada tambahan lagi. Saya akhirnya minum susu dengan gambar beruang itu, iya yang iklannya ada naga terbangnya itu. HAHAHA.

Jadi kalau ada yang puasa tambah gemuk karena konsumsi gula meningkat malah sebaliknya. Saya tetap kurus dan tidak gemuk-gemuk :( Ketika semua berlomba berburu es dan kolak saat puasa, saya justru menghindarinya. Yha, anggap saja ini detoks. Toh, selama 11 bulan sebelumnya saya minum yang manis-manis terus.

Jadi, kamu kalau sahur pakai apa?